Dec 26, 2010

Dialog aku dan Hujan

Hujan masih turun perlahan. Emosinya belum reda.
Aku masih menatap keluar dari balik jendela. Membenamkan diri dalam lamunan. Menyabotase pikiran sendiri. Dibiarkan kosong. Diisi oleh suara rintik hujan.

Dan sepertinya Hujan tahu aku sedang memperhatikannya. Dia mulai memperlambat langkahnya ke bumi. 

Dan aku mulai menyapa, 'Hai!'


Hujan tidak menyapa. Sedikit angkuh dia.

Matanya hanya tertuju ke tanah. Lurus, tak berkelok.
 

Memicingkan mata padaku pun dia tidak.
 

Kusenderkan badanku pada bangku di dekat jendela. Kubiarkan daguku menyentuh kaca. Agar lebih dekat dengan Hujan, pikirku.
 

Aku kembali melempar senyum.
 Dia tetap cuek. 

Ah, makhluk macam apa hujan ini. Sombong sekali dia. Melirik pun tidak.
 

Kutatap tanah dalam-dalam. Tak ada apa-apa, kecuali aromanya yang memang menyenangkan. Ya, aroma tanah ketika hujan.
 

Tapi apa yang membuat mata si Hujan tak sedikitpun lepas dari tanah?
 

Mataku tertuju kembali menoleh Hujan. Melempar senyum padanya. Mencoba mengalihkan perhatiannya. Sekali lagi.
 

Tapi tetap saja. Nihil.
 

Dan tetiba hujan berhenti.
 

Ah sudahlah ini sia-sia, pikirku.
 

Ternyata, kristal berwarna itu muncul. Dari merah hingga ke ungu. Membentuk lengkungan senyum bernama pelangi.
 

Ya, hujan membalas senyumku.

Akhirnya menatap mataku.
 

Menyenangkan, ketika kedua bola mata kita betemu. Dan pandangan kita saling beradu. Menyisakan lengkung di bibir yang tersipu malu.


Lebih indah dari yang pernah kuduga.

Dan itulah awal mula dialog kami.

Aku dan Hujan.




Jika Hujan itu Kamu

Jika rintik air ini adalah caramu ingin bertemu denganku. Kubiarkan hati ini meluap akibat curah hujanmu.

Jika hujan ini adalah cara Tuhan untuk memberi pelangi di setiap akhir awan kelabu, maka boleh lah Dia juga menyirami aku dengan peluh-Nya.

Jika hujan ini adalah cara Tuhan untuk mengingatkan aku tentang kamu. Boleh aku minta pada-Nya agar dimusnahkan saja? Karena cukup menyakitkan.

Jika hujan adalah cara Tuhan menyiksa manusia melalui rindu, boleh kah aku menikmatinya dulu? Selagi bayangmu masih bersemayam dalam kalbu.

Jika hujan adalah kamu. Akan ku keringkan lautan hati ini. Kubiarkan ia penuh meluap keluar oleh rintikmu, sebagai persediaan cintaku

Jika hujan itu kamu. Kubiarkan lautan hati yg kering ini penuh meluap. Kuambil sejumput demi sejumput. Kusisakan sebagai persediaan cintaku.

Jika hujan itu kamu, pantas saja awan itu kelabu. Terbakar cemburu melihatmu beradu lomba lari ke arahku. 

Tapi sayangnya hujan itu kamu. Hanya bisa menatapmu dari jauh. Dari balik bingkai jendela hatiku. Sambil menatap rindu.




Dec 25, 2010

Kepada Senja

Senja. Apakah kamu masih menunggu? Di ujung jalan itu, seperti kemarin.
Senja. Jangan melawan rasa itu! Kamu bisa melukai dirimu sendiri.
Senja. Jangan mengatup sampai gerimis datang. Kuingin menikmati tiap tetes tangisan ini sebagai keindahan.
Senja. Dua hal yang ingin kuselipkan di lembaran ceritamu: pertemuan dan keterpisahan. Atau kebalikannya: keterpisahan yang mencumbui pertemuan dan penyatuan di ujung pengakhirannya.
Maka, berjanjilah, Senja! Kita akan bertemu lagi di satu titik cinta; di suatu hari tanpa nama.





Dec 23, 2010

Maafkan Bunda

Maafku, tak ku tahu dimana ku simpan. Saat kau terlelap di pangkuanku, Abi. Kau terlihat letih, entah kenapa aku tak mau bertanya dengan bersuara. Sudah tiga malam kau tak menemaniku berjalan diantara sketsa hati kita bersama. Kala ini terjadi, aku sedang merasakan betapa cinta itu indah saat semua "sepaham". Namun iri itu kembali datang, tanya itu kembali menyeruak dalam setiap diamku. Bolehkah aku bertanya dan mengatakan ini, Abi..?

"Abi..tadi malam Bunda menangis. Sedikit, hanya beberapa tetes saja. Tapi Bunda merasa setiap tetesan itu sakit sekali! Bunda tidak tahu apa arti semua ini. Bunda hanya berserah pada Rabb, semoga hati kita tetap satu. Sambil mengingat Allah, entah kenapa semalam Bunda jalan di tempat sampai 33 kali dan masih pakai kain sholat. Berusaha menahan air mata, karena takut jatuh ke lantai kamar kecil kita. Dan membasahi tempat kita bersujud bersama. Ya, tepat di tempat Bunda duduk sekarang. Mungkin sedih, karena tiga hari kita tidak makan bersama. Dan tiga hari ini Abi tidak mengimami Bunda shalat, sungguh terasa lain sekali. Tapi melihat Abi ada disini, Bunda tegaskan sedih itu hilang meski ada yang tertinggal di dada ini, entah apa??"

"Dan saat Abi jauh, Bunda berusaha tenang. Mencoba bermain telepati, berulang-ulang Bunda sebut nama Abi, dengan harapan Abi akan pulang, atau mungkin mendadak ingat Bunda. Karena saat itu, tiga hari Bunda tak bisa menghubungi Abi. Abi yang bisa dihitung jumlahnya. Wajar Bunda bertanya Abi,, Bunda terdiam, hati Bunda lemas. Lemas sekali, ingin marah..tapi tak mau memarahi orang yang begitu Bunda hargai. Namun cara Abi seperti ini, membuat Bunda hampir saja menyimpulkan sesuatu..Dan ketika Abi datang, mengucapkan salam. Membenarkan Baju Bunda, mencium kening Bunda, terduduk dengan sedikit senyum lalu menggelarkan tubuh Abi di pangkuan Bunda, Bunda tertahan. "

Kata-kata itu hanya terjerat dihatiku. Saat tak kuasa membisikkannya meski dengan nada manis, dan aura tenang. Aku masih ingat, saat itu aku marah sekali padamu. Aku tak sanggup berkata. 
Bangunlah, aku ingin bicara padamu. Bicara tentang hatiku yang selalu tersenyum ketika memejamkan mata. Karena saat aku terpejam aku melihatmu yang tulus, hingga aku lupa pada lelahku yang dalam. Letihku yang pahit, dengan semua yang kita jalani. Abi.. pernahkah kau memandangi wajah ku saat aku tertidur disampingmu?. Terbacakah olehmu isi hatiku. Tau kah kau apakah aku bahagia atau aku merasa semua ini hampa. Taukah kau?. Semoga kau tahu.

Setelah kau memahami hatiku. Bertambah kah rasa cinta itu? atau kau akan larut dalam cerita masa depan hidupmu yang baru. Aku takut, takut sekali. Aku takut kau tak memahamiku. Lantas aku akan terdiam dalam jiwa yang rapuh karenanya. Dan disaat itu datang, akankah kau memelukku. Atau mungkin menggenggam tanganku seperti saat kau tertidur ini, kau tetap menggengam tanganku.

Aku tahu, selayaknya hamba. Cintamu dan cintaku tak pantas melebihi cinta kita pada-Nya. Namun sewajarnya manusia biasa. Aku adalah pendampingmu, aku ada di  bagian hidupmu. Aku lebih dari jantung, hati, paru-paru dan nyawa yang dititipkan-Nya padamu. Aku memohon dengan sedikit pengharapan, tampakkanlah cinta itu, perlihatkanlah rasa itu, jangan kau simpan di qalbu. Aku mau tahu, aku mau melihatnya, aku mau merasakannya. Abi, ingin ku katakan sekali lagi..Maafku, tak ku tahu dimana ku simpan..!

Dan ketika malam ini berlalu, banyak yang ingin kupupuskan jika itu yang terbaik. Aku tetap percaya pada janji kita, tetap satu kata. Tetap satu tujuan. Aku harap tidak akan ada yang berubah. Karena Matahari tetaplah matahari, sulit untuk berubah menjadi bulan. Kecuali jika kehendak-Nya bertutur kata “iya”. 

Malam ini, aku mengerti bahwa mungkin cinta itu berat untuk kita pahami. Tapi Abi, ikatan ini bukan sebuah kesalahan. Jangan berubah Abi.. Sebelum kata maaf, dan kata minta itu menghilang dalam kamus kita. Rasa sayang ini akan hilang, jika dibeli dengan rasa sakit, ditawar dengan kekecewaan dan di obral dengan kepalsuan...

Saat itu, kutegaskan aku tetap mencintaimu, dan hari-hari yang akan berlalu adalah bagian dari hidupku bersamamu..