Mar 28, 2011

Hujan kali ini

........,
aku rindu jalan-jalan basah sehabis hujan
jalan-jalan saat kita seringkali menghabiskan sepi
ketika kata-kata tak lagi diucapkan
dan kita sering menduga, hujan
...akan segera reda
aku rindu, kamu seperti dulu
saat cinta tak diucapkan tapi semesta
mendengarnya begitu saja




Tunggu Aku Di Negeri Sunyi

huruf-hurufmu memaksaku untuk menanam kembali
pohon-pohon kepercayaan yang telah tumbang oleh
angin taufan rasa cemas. rangkaian kata yang kau
bangun di atas tanah rinduku mengokohkan kepingan
kepingan mimpi menjadi harap bagi pungguk yang
terkapar.

“tunggu aku di negeri sunyi! di mana tak ada hujan
air mata!” ucapmu sebelum berlalu.

tanah hitam masih menyimpan jejak kakimu, udara
kosong masih menyisakan nafas kerontangmu. dan di
langit, awan menyetubuhi matahari.
detik-detik memaksaku memintal kesabaran dengan
benang resah, ketika kutemukan cahaya pada kedua
bola matamu.

mencintaimu adalah menabur hari esok pada halaman
depan kebahagiaan. 



hari ini, dua tahun yang lalu....

dua tahun telah lewat
kalender bergerak lebih cepat
hari ini mungkin daur ulang hari kemarin,
ada banyak peristiwa berlalu
bersama tuanya waktu

demikian dengan kau dan aku
kita pernah bertukar kata
menyimpannya dalam lubuk paling ceruk
membiarkannya tumbuh menjadi tunas-tunas rindu
memekarkan kuntum-kuntum cinta
meski tak sempat kita petik

tapi itu dulu
dua tahun yang lalu
sebab nyatanya kita tak pernah nyata
akhirnya hanya jabat erat
terlahir menuntaskan segala duka

dua tahun telah lewat
setelah kutemukan kata itu membusuk
bersama impian dan harapan.



KOSONG

tapi hidup bukan piringan hitam
yang sewaktu-waktu bisa kita putar ulang
kamu telah berjalan jauh meninggalkanku
meninggalkan jejak yang telah aku nikahi sekian lama

dan aku masih saja berusaha mengeja teks tua
menerjemahkan segala kekaburan yang tertera dalam peta
lantas kita pun semakin jauh
jauh meninggalkan mimpi-mimpi lama
sesuatu yang mungkin kamu sebut sebagai takdir
tapi aku tidak ingin menyebutnya sebagai nasib

aku sedang menggali kenangan
memungut satu dua tulang belulang yang menyimpan cerita kita
ketika rambutmu masih sepanjang aliran sungai
dan aku masih percaya pada kata-kata

Jika pun saat itu datang lagi
aku tak yakin kita mampu mengulangnya dengan fasih
segalanya telah terlampau jauh

yang kuhirup sekarang cuma kekosongan
dan aku masih mencintaimu dalam ingatan