Mar 28, 2011

Hujan kali ini

........,
aku rindu jalan-jalan basah sehabis hujan
jalan-jalan saat kita seringkali menghabiskan sepi
ketika kata-kata tak lagi diucapkan
dan kita sering menduga, hujan
...akan segera reda
aku rindu, kamu seperti dulu
saat cinta tak diucapkan tapi semesta
mendengarnya begitu saja




Tunggu Aku Di Negeri Sunyi

huruf-hurufmu memaksaku untuk menanam kembali
pohon-pohon kepercayaan yang telah tumbang oleh
angin taufan rasa cemas. rangkaian kata yang kau
bangun di atas tanah rinduku mengokohkan kepingan
kepingan mimpi menjadi harap bagi pungguk yang
terkapar.

“tunggu aku di negeri sunyi! di mana tak ada hujan
air mata!” ucapmu sebelum berlalu.

tanah hitam masih menyimpan jejak kakimu, udara
kosong masih menyisakan nafas kerontangmu. dan di
langit, awan menyetubuhi matahari.
detik-detik memaksaku memintal kesabaran dengan
benang resah, ketika kutemukan cahaya pada kedua
bola matamu.

mencintaimu adalah menabur hari esok pada halaman
depan kebahagiaan. 



hari ini, dua tahun yang lalu....

dua tahun telah lewat
kalender bergerak lebih cepat
hari ini mungkin daur ulang hari kemarin,
ada banyak peristiwa berlalu
bersama tuanya waktu

demikian dengan kau dan aku
kita pernah bertukar kata
menyimpannya dalam lubuk paling ceruk
membiarkannya tumbuh menjadi tunas-tunas rindu
memekarkan kuntum-kuntum cinta
meski tak sempat kita petik

tapi itu dulu
dua tahun yang lalu
sebab nyatanya kita tak pernah nyata
akhirnya hanya jabat erat
terlahir menuntaskan segala duka

dua tahun telah lewat
setelah kutemukan kata itu membusuk
bersama impian dan harapan.



KOSONG

tapi hidup bukan piringan hitam
yang sewaktu-waktu bisa kita putar ulang
kamu telah berjalan jauh meninggalkanku
meninggalkan jejak yang telah aku nikahi sekian lama

dan aku masih saja berusaha mengeja teks tua
menerjemahkan segala kekaburan yang tertera dalam peta
lantas kita pun semakin jauh
jauh meninggalkan mimpi-mimpi lama
sesuatu yang mungkin kamu sebut sebagai takdir
tapi aku tidak ingin menyebutnya sebagai nasib

aku sedang menggali kenangan
memungut satu dua tulang belulang yang menyimpan cerita kita
ketika rambutmu masih sepanjang aliran sungai
dan aku masih percaya pada kata-kata

Jika pun saat itu datang lagi
aku tak yakin kita mampu mengulangnya dengan fasih
segalanya telah terlampau jauh

yang kuhirup sekarang cuma kekosongan
dan aku masih mencintaimu dalam ingatan



Mar 16, 2011

Cerpen Seno Gumira: Sepotong Senja Untuk Pacarku

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993



Feb 17, 2011

Rainy Afternoon

langit itu tinggi dan  penuh warna
seperti kita
kita mendaki  yang menuju tempat yang tinggi
kita mewarnai tempat yang tak berwarna

kunang-kuang itu kecil dan bercahaya
seperti kita
kita selalu merasa kecil agar tak menjadi besar kepala
kita bercahaya dengan segala yang kita punya

hujan itu sejuk dan damai
seperti kita
kita selalu berusaha menjadi sejuk dan menyejukkan yang lain
kita belajar berdamai dengan kenyataan
yang kadang tak sesuai dengan yang kita harapkan




Feb 11, 2011

Ada mimpi di atas pohon
Kupanjat ia, pindah ke awan
Aku terbang meraihnya
Pindah ia terbawa hujan
Aku minta pada matahari
Jadilah ia pelangi

Mimpi kini d depanku
Dibungkus kado harum mewangi
Hadiah itu untukku
Dari matahari. 




Aku, diriku, Dia

Tadi malam aku bertemu dengan diriku.

Bukan diriku yang asli tapi diriku yang lain. Ingat itu.

Sejenak kaget melihat diriku di depan aku.

Bukan diriku yang asli tapi diriku yang lain. Ingat kan.

Kulihat dari atas sampai bawah. Itu memang diriku.

Ingat ya. Bukan diriku yang asli tapi diriku yang lain.



"Kenapa kau muncul di hadapanku ? " tanyaku.

"Aku muncul karena ada kau" jawabnya.

"Tapi aku ada bukan mauku juga"

"aku juga ada bukan mauku"

"Lantas, kenapa kau datang malam ini ? " lanjutku.

"Sebetulnya aku hadir di hari-harimu, dan itu pasti.
Namun kau terkadang mengacuhkanku. terkadang ingat, terkadang kau lupa." balasnya.

"Walaupun begitu, aku tidak butuh dirimu."

"Tak usah berkhianat. Kau pasti membutuhkanku kapanpun, dimanapun, saat kapan pun kau butuh aku.
Aku memberimu petunjuk ke jalan yang lurus, agar kau selamat, agar kau bahagia, dan agar kau menjadi dirimu yang seutuhnya.
Perlu kau tahu Dia menciptakan diriku untuk dirimu karena kasih sayang.
Bukan hanya padamu saja, tetapi pada kau, kau, kau yang lain."


"Pertanyaan terakhir setelah itu aku tidur. Telingaku jadi bising mendengarnya. Untuk apa kau muncul ?"

" Agar kau tahu, bahwa kau tidak sendirian.
Aku akan setia menemanimu, saat ini sampai kau kehilangan ruhmu.
Saat kau berada dalam keramaian, aku ada.
Saat kau berada dalam kesenangan, aku ada.
Saat kau berada dalam kebingungan, aku ada.
Saat kau berada dalam kecemasan, aku ada.
Saat bumi mengguncangkan isinya dan kau merasa takut, aku ada.
Saat kau ...."



"Cukup !!! Tutup Mulutmu !!! Sebenarnya siapa kau ini ? "




"Aku imanmu."




Jan 4, 2011

Lewat Senja

Kutinggalkan senja,
yang indah ini bagimu,
bersama mega yang menjingga,
menyambut malam...

Di senja ini kawan,
ada tawa kita,
semburat sinarannya,
adalah rekaman kisah kita,
yang masih hangat bagai senja,
dan di sana,
bahagia kita, nestapa kita,
menjelma menjadi sabit dan kejora...

Dan kita,
kita adalah angin,
yang berembus meniupi dedaunan,
dan seisi jagat di pengujung hari,
meninggalkan jejak, sebuah sejuk,
sejuk yang lahir dari hati...

Ku ingin semua merasakan sejuk,
kesejukan,
yang mampu memenitkan detik,
meruntuhkan lelah,
melelapkan mimpi...

Begitulah kira-kira yang kuinginkan,
aku ingin kita menjadi angin,
yang membawa kesejukan,
di setiap hati...




E N O U G H

kukira aku telah selesai berbicara tentang senja. 
tentang bagaimana senja hanyalah secarik kertas yang dilapisi warna kuning keemasan yang disebut sebagai lembayung. 
Atau biru pekat yang menggigil, yang ia sebut indigo. 
tentang bagaimana burung-burung pulang petang, dan nelayan bersiap-siap berlayar.


tetapi, 
sama seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya, 
aku masih menemukan diriku duduk di tepi pantai, 
memeluk kedua lututku, 
merasakan butir-butir pasir menggesek habis perasaan yang lara ini, 
yang kian menua dimakan waktu. 
memandangi ombak bergulung, dan memecah ketika kedalaman laut berubah. 
berdebur tatkala mencoba memecah karang, 
menjejak basah di udara, 
dan lenyap ditarik pulang ke laut.




Hai, aku kembali lagi. . . 
Hari ini  tanggal 4 Januari 2011, aku punya 10 menit untuk menyelesaikan cerita ini, semoga kau membaca. he he he.
dan maaf...lagi-lagi aku tak bisa tuntaskan cerita ini...
****


apa kabarmu? kau masih bahagia kan?? angin masih menyapamu kan? kalau iya berarti kau bahagia. Yahhhh....seperti yang pernah ku katakan di catatan lalu, bahagia itu sedehana...selama kau masih bisa merasakan angin berarti kau bahagia...


Ehhhh... 4 Januari lalu ternyata tidak cukup buatku untuk menyelesaikan cerita ini. Aku melanjutkannya lagi, 8 Agustus di tahun yang sama...kau tidak marah kan?





Hai....
Aku tetap ingin dan selalu ingin jadi "Hujanmu", bagaimana? kau masih sepakat akan hal ini kan?

Hmmmm, mungkin kalau catatan-catatan ini dibukukan lebih tebal dari skripsiku ya, yang aku sendiri belum tau nanti tebalnya seberapa. Yah, inilah keajaiban dari kata, karena kata mampu abadikan cerita yang akan selalu jadi kisah. Kisah yang akan dikenang, entah kisah itu bisa buat kita tersenyum dan tertawa, atau mengerengut dan harus menguraikan air mata. Entahlah...inilah hidup, karena hidup adalah soal keberania untuk menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar, yang bisa dilakukan adalah mengerima dan menghadapi. Kalau tidak begitu maka kita akan "mati", jadi sampah yang hanya memenuhi bumi.

Aku jadi rajin menulis sekarang. Ntahlah....mungkin bagiku ini semua sangat penting. Yah...selama tangan ku masih hafal dengan benar letak tuts di keyboard komputer meski telingaku tak bisa mendengar lagi, mataku tak bisa melihat lagi, dan aku tak bisa bicara lagi, tapi kepalaku masih bisa ku ajak untuk mengingat semua hal, aku tidak akan berhenti menulis selama nafasku masih ada, meski tersengal tinggal satu-satu, aku akan tetap menulis. Akan kuceritakan apa saja yang terjadi padaku hari demi hari, apa yang kulihat, kudengar, dan kurasakan, juga tentang apa yang ku pikirkan. Kau tau kenapa, karena kita "sekarang" hanya punya sedikit waktu untuk bercerita. Tapi, itu tak jadi masalah buatku, aku akan selalu baik-baik saja. Yah...sejak ku dedikasikan diriku untuk menjadi wanita "tidak biasa", aku akan selalu baik-baik saja, apapun yang terjadi nanti. he he he...kau bisa lihat kan, aku wanita yang penuh dengan semangat!

Apa kabarmu hari ini? senja menyapaku saat aku menulis ini, dia tanya kabarmu tuh. Aku bilang kamu selalu baik-baik saja, karena aku masih tersenyum...(kok gak nyambung ya?)

Sial!
aku harus berhenti lagi, sesuatu merusak moodku lagi. Nanti aku kembali, kuteruskan cerita ini, semoga besok aku masih punya sedikit waktu, kau bersedia menunggu kan?