Jan 4, 2011

Lewat Senja

Kutinggalkan senja,
yang indah ini bagimu,
bersama mega yang menjingga,
menyambut malam...

Di senja ini kawan,
ada tawa kita,
semburat sinarannya,
adalah rekaman kisah kita,
yang masih hangat bagai senja,
dan di sana,
bahagia kita, nestapa kita,
menjelma menjadi sabit dan kejora...

Dan kita,
kita adalah angin,
yang berembus meniupi dedaunan,
dan seisi jagat di pengujung hari,
meninggalkan jejak, sebuah sejuk,
sejuk yang lahir dari hati...

Ku ingin semua merasakan sejuk,
kesejukan,
yang mampu memenitkan detik,
meruntuhkan lelah,
melelapkan mimpi...

Begitulah kira-kira yang kuinginkan,
aku ingin kita menjadi angin,
yang membawa kesejukan,
di setiap hati...




E N O U G H

kukira aku telah selesai berbicara tentang senja. 
tentang bagaimana senja hanyalah secarik kertas yang dilapisi warna kuning keemasan yang disebut sebagai lembayung. 
Atau biru pekat yang menggigil, yang ia sebut indigo. 
tentang bagaimana burung-burung pulang petang, dan nelayan bersiap-siap berlayar.


tetapi, 
sama seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya, 
aku masih menemukan diriku duduk di tepi pantai, 
memeluk kedua lututku, 
merasakan butir-butir pasir menggesek habis perasaan yang lara ini, 
yang kian menua dimakan waktu. 
memandangi ombak bergulung, dan memecah ketika kedalaman laut berubah. 
berdebur tatkala mencoba memecah karang, 
menjejak basah di udara, 
dan lenyap ditarik pulang ke laut.




Hai, aku kembali lagi. . . 
Hari ini  tanggal 4 Januari 2011, aku punya 10 menit untuk menyelesaikan cerita ini, semoga kau membaca. he he he.
dan maaf...lagi-lagi aku tak bisa tuntaskan cerita ini...
****


apa kabarmu? kau masih bahagia kan?? angin masih menyapamu kan? kalau iya berarti kau bahagia. Yahhhh....seperti yang pernah ku katakan di catatan lalu, bahagia itu sedehana...selama kau masih bisa merasakan angin berarti kau bahagia...


Ehhhh... 4 Januari lalu ternyata tidak cukup buatku untuk menyelesaikan cerita ini. Aku melanjutkannya lagi, 8 Agustus di tahun yang sama...kau tidak marah kan?





Hai....
Aku tetap ingin dan selalu ingin jadi "Hujanmu", bagaimana? kau masih sepakat akan hal ini kan?

Hmmmm, mungkin kalau catatan-catatan ini dibukukan lebih tebal dari skripsiku ya, yang aku sendiri belum tau nanti tebalnya seberapa. Yah, inilah keajaiban dari kata, karena kata mampu abadikan cerita yang akan selalu jadi kisah. Kisah yang akan dikenang, entah kisah itu bisa buat kita tersenyum dan tertawa, atau mengerengut dan harus menguraikan air mata. Entahlah...inilah hidup, karena hidup adalah soal keberania untuk menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar, yang bisa dilakukan adalah mengerima dan menghadapi. Kalau tidak begitu maka kita akan "mati", jadi sampah yang hanya memenuhi bumi.

Aku jadi rajin menulis sekarang. Ntahlah....mungkin bagiku ini semua sangat penting. Yah...selama tangan ku masih hafal dengan benar letak tuts di keyboard komputer meski telingaku tak bisa mendengar lagi, mataku tak bisa melihat lagi, dan aku tak bisa bicara lagi, tapi kepalaku masih bisa ku ajak untuk mengingat semua hal, aku tidak akan berhenti menulis selama nafasku masih ada, meski tersengal tinggal satu-satu, aku akan tetap menulis. Akan kuceritakan apa saja yang terjadi padaku hari demi hari, apa yang kulihat, kudengar, dan kurasakan, juga tentang apa yang ku pikirkan. Kau tau kenapa, karena kita "sekarang" hanya punya sedikit waktu untuk bercerita. Tapi, itu tak jadi masalah buatku, aku akan selalu baik-baik saja. Yah...sejak ku dedikasikan diriku untuk menjadi wanita "tidak biasa", aku akan selalu baik-baik saja, apapun yang terjadi nanti. he he he...kau bisa lihat kan, aku wanita yang penuh dengan semangat!

Apa kabarmu hari ini? senja menyapaku saat aku menulis ini, dia tanya kabarmu tuh. Aku bilang kamu selalu baik-baik saja, karena aku masih tersenyum...(kok gak nyambung ya?)

Sial!
aku harus berhenti lagi, sesuatu merusak moodku lagi. Nanti aku kembali, kuteruskan cerita ini, semoga besok aku masih punya sedikit waktu, kau bersedia menunggu kan?